Memata-matai Kartu Kredit
Ditulis oleh hadiwibowo di/pada Oktober 23, 2009
Mohon maaf judulnya mungkin kurang tepat. Yang saya ingin bagikan dalam tulisan ini adalah bagaimana tindakan kita untuk mengamankan setiap transaksi menggunakan kartu kredit sehingga tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mata-mata 1
Secara tidak sengaja saya melihat orang-orang yang bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit tidak menyadari bahwa tindakan cerobohnya dapat merugikan dirinya sendiri akibat penyalahgunaan kartu kreditnya.
Tengoklah tempat sampah disamping kasir toko atau samping ATM (automated teller machine) akan ditemukan kertas-kertas struk belanjaan atau konfirmasi transaksi. Kita bisa mendapatkan informasi kartu kredit dari struk yang dibuang itu.
Simaklah struk bekas belanja dengan menggunakan alat bayar kartu kredit. Disana tertera nama bank dan jenis kartu kreditnya (misalnya visa, mastercard atau amex atau lainnya), nama pemilik kartu kredit dan reference yang menunjuk ke nomor kartu kredit. Jenis kartu pun, apakah itu kartu debit atau kredit tertera dengan jelas.
Saat bertransaksi dengan kartu kredit, selain struk belanjaan, kasir akan memberikan pula satu struk konfirmasi bank, dan disana terdapat pula informasi kartu kredit.
Selain struk, sering pula ditemukan sampah kertas milik seseorang yang baru saja menerima aplikasi kartu kredit. Disana ada juga informasi kartu kredit.
Ada lagi, setiap bulan pemilik kartu kredit akan menerima kertas tagihan. Disana jelas tertera informasi kartu kredit. Biasanya beberapa pemilik kartu membayar tagihan melalui ATM, menerima struk tanda transaksi pembayaran yang didalamnya ada informasi kartu kredit.
Informasi yang tertera dalam sampah kertas (struk) itu dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempunyai minat mencuri uang melalui kartu kredit orang lain. Istilah populernya carder atau credit card fraud atau card hacker.
Struk kartu kredit yang dibuang sembarangan akan memudahkan seorang card hacker dalam menjalankan misinya. Informasi itu ibarat sebuah klu (kata kunci) dalam permainan puzzle.
Tip: jangan membuang struk atau kertas tentang kartu kredit secara sembarangan. Gilinglah kertas dengan paper shredder atau gunting kecil-kecil atau bakar atau cara lain yang lebih ramah lingkungan yang intinya musnahkan dulu informasi didalamnya baru dibuang.
Mata-mata 2
Mungkin beberapa pembaca pernah menerima telepon oleh seseorang yang mengaku sebagai customer service sebuah bank yang mengeluarkan kartu kredit. Orang tersebut (biasanya cewe) dengan ramah menjelaskan bahwa sedang ada survey bagi pengguna kartu kredit untuk menaikkan limit. Dia dengan halus meminta beberapa informasi yang dikatakannya sebagai konfirmasi untuk membuka database.
Kadang mereka juga mengaku sebagai sales marketing sebuah lembaga keuangan yang sedang menawarkan kartu kredit tambahan, asuransi kartu kredit atau lainnya yang mirip-mirip dan bisa dipakai sebagai pembuka untuk menanyakan data-data yang biasanya dipakai untuk membuka database nasabah seperti nama lengkap, tanggal lahir, nama ibu semasa gadis, alamat tagihan dsb.
Kegiatan orang tersebut merupakan salah satu upaya mencari informasi kartu kredit yang dikenal dengan sebutan social engineering yaitu aktifitas memanipulasi orang untuk mendapatkan informasi penting dengan mengeksploitasi kelemahan manusia.
Biasanya, bank (yang bener/asli) tidak pernah menelepon nasabah kemudian menanyakan data-data identitas untuk membuka database. Bank hanya akan menanyakan data-data sebagai konfirmasi keaslian/kebenaran identitas si nasabah bila si nasabah yang menelepon ke bank. Logis kan.
Selain itu sangat jarang bank meminta data identitas nasabah melalui telepon karena ada perubahan sistem, tawaran asuransi, menaikkan limit atau lainnya. Sistem perbankan jauh lebih efisien dari pada menelepon satu per satu nasabahnya.
Tip: jangan memberikan informasi kartu kredit ketika menerima telepon, baik data identitas apalagi nomor kartu kreditnya. *perhatikan menerima-telepon, bukan me-nelepon*
Sebisa mungkin tolaklah (dengan halus) bila ada permintaan data-data identitas atau nomor kartu kredit melalui telepon. Bank yang asli akan memahami bila nasabahnya keberatan menyebutkan informasi tersebut.
Mata-mata 3
Karena internet sudah menjadi menu sehari-hari tentunya gaya tipuan untuk mencuri uang melalui kartu kredit pun sudah menggunakan media surat elektronik (e-mail) dan situs web.
Materi tipuannya sama saja seperti survey, tawaran asuransi, ada perubahan sistem dll. Hanya medianya adalah e-mail palsu (phising) atau situs web palsu (web scam). -antz-
hadiwibowo berkata
contoh untuk artikel diatas, dari kompas hari Senin, 2-11-2009
kutip
Waspadai Sindikat Pengganda Kartu Kredit
SENIN, 2 NOVEMBER 2009 | 11:32 WIB
BATAM, KOMPAS.com – Kepolisian Kota Besar Batam Rempang dan Galang (Poltabes Barelang) mengamankan dua orang anggota sindikat pengganda kartu kredit internasional.
“Unit reskrim menangkap sindikat kartu kredit,” kata Kepala Poltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan di Batam, Senin. Dua orang anggota sindikat pengganda kartu kredit internasional, berinisial Al dan IS, ditangkap dari sebuah hotel berbintang di kawasan Jodoh, Batam, bersama barang bukti berupa 35 kartu kredit gandaan dari berbagai bank, beberapa barang elektronik hasil transaksi seperti Vaio, TV plasma dan beberapa kamera.
Di antara kartu kredit gandaan yang diamankan, berlogo bank American Express, Visa, Bank Mandiri, BRI, Bukopin, BSM Card, OCBC NISP, Passpor BCA, CIMB Niaga, BNI, Mega Pass, Permata Bank dan Panin Bank.
Dua korban penggandaan kartu kredit adalah warga Amerika Serikat Peter Walcott dan warga Inggris Robert Henri, berdasarkan nama yang tertera dalam kartu kredit yang digandakan.
Mengenai nilai kerugian yang ditimbulkan tersangka, Kapoltabes mengatakan masih dalam penyelidikan. “Yang pasti banyak,” kata Leonidas.
Poltabes Barelang, kata Kapoltabes, berkoordinasi dengan bagian “cyber crime” Mabes Polri dan Asosiasi. Di tempat yang sama, Kasat Reskrim Kompol Christian Tory mengatakan, tersangka ditangkap berdasarkan informasi pihak hotel tempat menginap yang mencurigai kartu kredit tersangka.
Tersangka yang ke Batam tanggal 27 Oktober, menginap untuk kedua kalinya di hotel PP, membayar tagihan kamar atas nama Robert Henri. Padahal, sebelumnya, tersangka pernah menginap dan membayar menggunakan kartu kredit berbeda, atas nama Peter Walcott.
“Itu yang membuat pihak hotel curiga, karena orang dan tanda tangannya sama,” kata Christian. Pihak hotel, kata dia, juga mencurigai gerak-gerik tersangka, yang membeli banyak barang elektronik, yang nilainya besar.
Sementara itu, tersangka Al, mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jakarta mengaku hanya melakukan transaksi menggunakan kartu kredit gandaan di Batam. Ia mengatakan, kartu kredit digandakan Mickey, kawannya di Jakarta.
Alat perekam data kartu kredit, juga ia dapatkan dari Mickey, dengan harga Rp 1 juta. “Kartu kredit langsung bisa jadi dalam dua hari,” kata dia.
unkutip