Lebih jauh dengan Bapak Persandian Indonesia
Ditulis oleh hadiwibowo di/pada Januari 18, 2007
Menyambung artikel yang lalu tentang Mayor Jenderal TNI (purn) dr. Roebiono Kertopati, Bapak Persandian Republik Indonesia, berikut informasi tambahan tentang beliau yang saya dapatkan.
Pada masa perang kemerdekaan lebih tepatnya tanggal 4 April tahun 1946, Letnan Kolonel dr. Roebiono Kertopati mendapat perintah dari Mr. Amir Syarifuddin, Menteri Pertahanan RI saat itu, untuk mendirikan sebuah badan yang mengelola persandian nasional.
Bapak Roebiono Kertopati yang lahir di Ciamis pada tanggal 11 Maret 1914 sebelum dan selama perang dunia II tidak pernah bekerja dalam bidang persandian / kriptografi. Suami dari Amalia Achmad Atmadja ini adalah seorang dokter yang pada waktu itu menjabat sebagai dokter (medis) di Kementerian Pertahanan RI bagian B (intelijen). Karena pada masa itu, tidak seorang pribumipun dipercaya Belanda untuk bekerja dalam bidang persandian.
Beliau tidak mengenyam pendidikan persandian secara formal, namun hanya berupa kursus singkat pengenalan sandi dari kementerian luar negeri Belanda pada tahun 1949. Namun melalui bacaan serta imajinasi, logika dan intuisi, diciptakanlah sistem-sistem sandi sendiri.
Walaupun tanpa ilmu pengetahuan yang memadai mengenai teknis kriptografi dan hanya dibantu oleh tenaga-tenaga yang juga awam sandi, sistem-sistem sandi buatan sendiri tersebut terbukti efektif dan dapat diandalkan untuk mengamankan komunikasi berita di medan peperangan, di dalam perundingan-perundingan antara pemerintah RI dengan Belanda dan dengan PBB, pada komunikasi pemberitaan di perbatasan dan di dalam gerilya di daerah dan pedalaman.
Berpijak dari kegiatan-kegiatan militer dan politik negara yang selalu membutuhkan kerahasiaan komunikasi pemberitaan, sebagai perintis dan pendiri persandian di Indonesia, bapak dari empat anak ini telah mempunyai pemikiran dan konsep yang jelas tentang kedudukan suatu badan persandian dalam struktur pemerintahan negara. Hanya berbekal daya nalar dan dilandasi semangat juang yang pantang menyerah itulah, bapak Roebiono dan kawan-kawannya merintis persandian di Indonesia.
Seiring dengan waktu, persandian di Indonesia terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan. Bermula dari hanya sebuah ruangan kecil tempat kegiatan sandi berlangsung dan alat yang diguanakan pun masih berupa pensil dan kertas, kini telah menjadi sebuah institusi mandiri dengan peralatan yang jauh lebih kompleks. Perekrutan dan pendidikan tenaga sandi (sandiman) pun ikut berkembang dengan pesat. Dari hanya sebuah kursus singkat (seperti magang) menjadi setingkat akademi, bahkan kini telah menjadi Sekolah Tinggi.
Mayjen TNI (purn) dr. Roebiono Kertopati yang menguasai dengan aktif empat bahasa asing yakni Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis ini memimpin persandian Indonesia dari tanggal 4 April 1946 yang masih berupa sebuah kamar sandi sampai dengan tahun 1984 yang telah bernama Lembaga Sandi Negara.
Pada tanggal 23 Juni 1984 sang penerima 11 bintang jasa (utama) dari pemerintah Indonesia ini wafat. Sampai akhir hayatnya beliau tetap berjuang untuk memajukan persandian di Indonesia, suatu bidang perjuangan yang masih langka dan merupakan kegiatan yang tidak dikenal.
Motto yang saat itu selalu didengungkan kepada seluruh anak buahnya yang bekerja sebagai tenaga sandi adalah : BERANI TIDAK DIKENAL.-
murniramli berkata
Ini artikel bagus sekali. Saya awam ttg persandian, tetapi terkesan dg perjuangan Pak Roebiono, seharusnya diajarkan dalam pelajaran sejarah ya.
liucr kuor berkata
wah…. hebat banget ya pak roebi. pake imajinasi aja dia dah bisa mbuat kayak gitu